| Tulisan
ini diambil dari Kompas Online dengan URL:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/07/utama/1603619.htm
Melangkah Ke Depan Setelah Kenaikan BBM
Faisal Basri
PERNYATAAN dan aksi menolak kenaikan harga BBM semakin marak.
Gelombang protes ini diperkirakan bakal semakin deras dalam
beberapa hari ke depan. Kita sungguh memahami kekecewaan sebagian
besar masyarakat yang kehidupannya serba pas-pasan.
Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - Jusuf Kalla
(JK) pada pemilihan langsung presiden tahun lalu merupakan
pertanda kuat bahwa masyarakat mendambakan perubahan dan harapan
baru. Besarnya harapan tersebut juga dibentuk oleh janji-janji
kampanye yang diusung kubu SBY-JK. Telah banyak memang yang
dilakukan oleh pemerintahan baru.
Namun harus diakui bahwa perbaikan yang telah terjadi belum
kunjung dirasakan secara nyata oleh rakyat kebanyakan. Para
pekerja belum menikmati kenaikan upah minimum yang bisa mengejar
kenaikan harga-harga. Deretan para penganggur terus bertambah
panjang. Nasib pegawai negeri, prajurit dan polisi tak beringsut
naik. Kesejahteraan petani dan nelayan tak terkerek karena
kenaikan biaya lebih cepat ketimbang harga jual produksi pertanian.
Sudah barang tentu pemerintah tak mungkin menyulap kesuraman
menjadi keriangan dalam sekejap. Ada sejumlah prasyarat yang
harus dipenuhi dan langkah-langkah awal yang harus ditempuh
terlebih dahulu. Untuk itu dibutuhkan waktu untuk memantapkannya.
Apakah pemerintah tak memiliki ruang gerak sama sekali untuk
menata harapan masyarakat agar tetap memiliki optimisme? Rasanya
tidak. Pemerintah niscaya bisa memberikan "pemanis"
terlebih dahulu sebelum menyajikan "pil pahit".
Masih banyak inisiatif yang bisa menumbuhkan simpati masyarakat
sehingga menghasilkan quick wins dalam wujud yang betul-betul
nyata, sehingga pemerintah bisa kembali merebut kepercayan
masyarakat. Misalnya, memberantas premanisme dan pungutan
ilegal maupun resmi tapi "mengada-ada" di sepanjang
jalan yang niscaya mengurangi beban para sopir truk dan angkutan
kota.
Contoh lain ialah memperbanyak pompa bensin bagi nelayan
sehingga mereka tak lagi membeli solar pada harga di atas
harga resmi.
Seandainya pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor
2 Tahun 2005 tentang Kebijakan Perberasan yang bertujuan meningkatkan
harga jual beras di tingkat petani sebelum pengumuman kenaikan
harga BBM, mungkin masyarakat akan bertambah keyakinannya
bahwa pemerintah lebih mendahulukan kepentingan masyarakat
bawah.
Seandainya pemerintah mengumumkan terlebih dahulu rencana
pembangunan infrastruktur di pedesaan dan di sektor pertanian
serta program pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah
(UMKM) sebelum menggulirkan Infrastructure Summit, mungkin
persepsi masyarakat terhadap pemerintah akan jauh lebih positif.
APAKAH tekanan yang semakin keras untuk membatalkan kenaikan
harga BBM akan membuat tekad pemerintah surut seperti yang
terjadi pada Januari 2003? Jika ya, maka kita akan menghadapi
hari-hari dengan harapan yang menipis untuk lima tahun ke
depan.
Kenaikan harga BBM merupakan salah satu unsur terpenting
untuk menyusun kebijakan energi nasional bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang
Dasar 1945. Minyak merupakan sumber daya alam yang relatif
langka dan tak terbarukan. Wujud dari rasa syukur kita atas
karunia Tuhan ini ialah dengan tidak menyia-nyiakannya. Jangan
sampai generasi sekarang berbuat "zalim" dengan
mengonsumsikannya "melampaui batas" karena harganya
dipatok murah-lebih murah daripada air mineral-sehingga generasi
mendatang kehilangan kesempatan menikmati karunia Tuhan ini.
Memang kenaikan harga BBM mengusik rasa keadilan antargolongan.
Namun kita pun harus menegakkan keadilan antargenerasi, yakni
dengan cara bahwa generasi sekarang harus turut bertanggung
jawab dengan menyisihkan minyak agar bisa dinikmati oleh generasi
mendatang. Yaitu dengan mengembangkan sumber-sumber energi
alternatif yang kita pun memiliki potensi melimpah dan bisa
diperbarui pula, misalnya ubi kayu, kelapa sawit, air, panas
bumi, dan tenaga matahari. Sumber-sumber energi alternatif
ini tak bisa dikembangkan jika harga BBM tetap murah.
Penolakan atas kenaikan harga BBM juga didasarkan pada hujah
bahwa dana kompensasi yang dialokasikan pemerintah untuk orang
miskin tidak akan berarti dan tepat sasaran karena birokrasi
yang korup dan data tentang orang miskin yang tidak akurat.
Atas hujah ini, kiranya kita harus jujur mengatakan bahwa
bagaimanapun subsidi yang ditargetkan langsung kepada yang
paling berhak (targeted subsidy) jauh lebih efektif sampai
ke sasaran ketimbang subsidi berdasarkan komoditi (commodity
subsidy) yang bersifat across the board, yang mana semua lapisan
mayarakat menerimanya, tak peduli kaya ataupun miskin. Sulit
kiranya untuk membantah kenyataan bahwa subsidi BBM selama
ini sangat tidak tepat sasaran dan dinikmati oleh kelompok
menengah ke atas.
Lebih jauh, para pengritik kenaikan harga BBM mengatakan
bahwa pemerintah bisa menerapkan kebijakan perpajakan yang
lebih "kreatif" agar subsidi tak dinikmati orang
kaya. Kita tentu saja mendukung usulan ini. Tetapi, bukankah
penerapannya membutuhkan persiapan yang lebih seksama, misalnya
pembenahan birokrasi yang korup, yang notabene menjadi salah
satu concern para pengitik itu untuk menolak skema kompensasi?
Seandainya, katakanlah, dana kompensasi yang sampai ke sasaran
hanya 50 persen saja, efektivitas skema ini untuk membantu
orang miskin jauh lebih baik ketimbang skema subsidi across
the board tanpa menaikkan harga BBM. Pemerintah dan bangsa
ini tak memiliki kemewahan untuk menunggu segala sesuatunya
bisa dibenahi baru kemudian menaikkan harga BBM. Mari kita
pilah-pilah, mana persoalan jangka pendek, jangka menengah,
dan jangka panjang, dan selanjutnya kita pecahkan satu per
satu.
Yang terlupakan ialah kompensasi untuk kelompok masyarakat
yang tergolong nyaris miskin (near poor), khususnya di perkotaan.
Kelompok ini cukup banyak, bahkan jumlahnya lebih besar ketimbang
yang berada di bawah garis kemiskinan. Mereka tak memenuhi
kriteria untuk memperoleh dana kompensasi, namun hidup mereka
pas-pasan. Kelompok inilah yang paling ringkih akibat kenaikan
harga BBM, sehingga dalam jangka pendek harus diperhatikan
dengan seksama.
KITA berharap, kebijakan yang secara nalar dan ideologis sekalipun
pada dasarnya "benar" dan "baik" ini tidak
menjadi "bulan-bulanan" semata-mata karena kemasannya
compang-camping. Harus diakui bahwa skema dana kompensasi
yang diusulkan pemerintah jauh lebih baik dan mendasar ketimbang
sebelumnya. Pemihakan kepada kelompok miskin juga lebih signifikan
dan terfokus.
Dengan menyadari bahwa pemerintahan baru menghadapi keterbatasan
untuk melaksanakan visi dengan sepenuhnya pada tahun 2005
ini, karena harus melaksanakan anggaran pendapatan dan belanja
negara (APBN) warisan pemerintahan lama, kiranya kerangka
umum kebijakan menaikkan harga BBM sudah merupakan langkah
awal yang berani dan maju selangkah.
Skema dana kompensasi untuk orang miskin yang berawal dari
realokasi subsidi BBM harus dijadikan modal dasar untuk menyusun
skema jaminan sosial yang lebih menyeluruh dan terpatri (built
in) di dalam sistem. Kesinambungan sistem jaminan sosial ini
sangat tergantung keseriusan pemerintah melakukan "revolusi"
perpajakan (Kompas, 21 Februari). Hanya dengan meningkatkan
penerimaan negara dari pajak secara berarti dan benar, kita
bisa mengangkat harkat puluhan juta orang miskin dan nyaris
miskin, memajukan pendidikan dan kesehatan rakyat, menggaji
secara layak pegawai negeri, tentara, dan polisi, serta meningkatkan
kemampuan pertahanan negeri sehingga disegani negara-negara
tetangga.
Momentum kenaikan harga BBM juga menyadarkan kita betapa sangat
buruk dan tidak sehatnya sistem transportasi nasional dan
perkotaan kita.
Karena itulah pemerintah tampaknya mengalami kesulitan menghadapi
tekanan kenaikan biaya angkutan perkotaan yang dijejali oleh
jutaan pemilik dan pengemudi yang tergolong pelaku kegiatan
informal.
Sistem transportasi perkotaan yang semrawut ini pula yang
membuat boros penggunaan BBM. Pemborosan semakin bertambah
karena peningkatan jumlah kendaraan pribadi mengingat dengan
harga BBM yang murah membuat penggunaan kendaraan pribadi
lebih murah ketimbang kendaraan umum.
Pendek kata, kinilah saatnya bagi bangsa ini untuk mulai
menata masa depannya dengan lebih seksama. Mitos yang selalu
mengemuka setiap kali terjadi kenaikan harga BBM sudah sepatutnya
dicampakkan.
Kita berharap kebijakan menaikkan harga BBM bisa dijadikan
sebagai pembuka pintu untuk memasuki era baru dalam penataan
ekonomi nasional yang lebih menyeluruh.
|