beranda.net>artikel> Mengenai Gajah dan Mencabut Gigi
Mengenai Gajah dan Mencabut Gigi :
Sudahkah pendidikan Indonesia menghargai
perbedaan?
oleh
: Harijanto Tjahjono*
Jika kita ingin mencapai perdamaian
sejati di bumi ini,
kita harus mulai dari anak-anak
(Gandhi)
Dalam wancaranya dengan beberapa responden asing di
Jakarta,
Amien Rais baru-baru ini menyatakan pendapatnya bahwa sekolah-
sekolah yang mengajarkan kebencian seharusnya ditutup. Pernyataan
ini dibuat tentunya dalam konteks maraknya tuduhan mengenai adanya
sekolah-sekolah tertentu yang mengkhotbahkan pada murid-muridnya
untuk membenci mereka yang beragama lain. Bahkan sempat pula muncul
tuduhan bahwa sekolah-sekolah ini telah menjadi tempat persemaian
bibit-bibit terorisme. Amien Rais dengan hati-hati menambahkan bahwa
tentunya dibutuhkan pembuktian terlebih dahulu sebelum menutup
sebuah sekolah dan penutupan ini jangan sampai mengganggu pesantren
pada umumnya, yang telah menjadi sebuah pilar pendidikan di
Indonesia.
Terlepas dari perlu-tidaknya kita menutup sekolah
yang
memang terbukti mengajarkan kebencian, mau tak mau penulis merasa
bahwa jika kita hanya berusaha mendeteksi dan menghentikan
pengajaran kebencian ini, maka usaha kita sudah amat terlambat dan
hanya menjadi usaha yang reaktif belaka. Kita bukan hanya perlu
mengeluarkan muatan kebencian dan intoleransi ini yang, sengaja
ataupun tidak, diajarkan pada anak-anak kita; akan tetapi kita perlu
dengan proaktif dan menyeluruh memikirkan : Muatan apa yang perlu
kita masukkan dalam kurikulum untuk melawan intoleransi ini? Sudah
saatnyakah kita memasukkan pemahaman mengenai bagaimana menghargai
perbedaan dalam kurikulum pendidikan dasar kita? Tanpa memperhatikan
masalah muatan ini dalam kurikulum kita dengan proaktif, usaha
penutupan sekolah atau pesantren manapun hanyalah bagaikan usaha
mencabut gigi yang sakit tanpa berusaha menanamkan kebiasaan
menyikat gigi dengan baik. Dengan kata lain, usaha penutupan sekolah
ini hanyalah menanggulangi 'simptom-simptom' yang ada, tanpa
berusaha memecahkan akar permasalahannya.
Masalah menghargai perbedaan ini telah menjadi sangat
relevan bagi negara kita dalam beberapa tahun terakhir ini.
Peristiwa peledakan bom di Bali, peledakan bom di malam Natal,
pertikaian antar etnis di Kalimantan dan pertikaian antar agama di
Ambon adalah hanya beberapa contoh pedih betapa intoleransi pada
mereka yang berbeda telah menggejala di masyarakat kita. Memang
penanganan langsung pada peristiwa-peristiwa tersebut sudah
sepantasnya menjadi prioritas utama, tapi sudah saatnya kita
bertanya juga apakah di masa depan kita menginginkan anak-anak kita
membuat kesalahan yang sama lagi? Apakah anak-anak kita akan terus
hidup dalam suasana dimana perbedaan begitu diharamkan, sehingga
mereka yang berbeda harus diubah menjadi 'sama', jika tidak lebih
baik dimusnahkan? Jika jawaban kita adalah 'tidak', maka sudah
saatnya kita melihat apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita, di
rumah dan di sekolah. Seperti yang dikatakan oleh Gandhi dalam
kutipan di awal tulisan ini, jika kita menghendaki perdamaian, kita
harus mulai dari anak-anak.
Menurut saya ada dua hal yang perlu diubah, sebagai
implementasi praktis dari refleksi ini. Yang pertama adalah budaya
penyeragaman yang ada pada sekolah-sekolah kita. Budaya
penyeragaman/uniformitas menghendaki supaya semua anak memiliki pola
pikir dan perilaku (bahkan kadang sampai pada pola berpakaian) yang
persis sama. Guru-guru yang menghendaki jawaban
yang 'terstandardisasi' dan persis sama dari murid-muridnya adalah
salah satu contoh budaya ini. (Sampai disini mau tak mau saya jadi
teringat kasus yang diceritakan kawan saya tentang anaknya yang
disalahkan oleh gurunya ketika menjawab pertanyaan "Apa yang
dikerjakan Ibu sehari-hari?" dengan jawaban "Ke kantor". Jawaban
yang benar adalah "Memasak dan merawat rumah"). Pendidikan yang
tidak bisa menghargai kreativitas anak yang menampilkan sesuatu yang
berbeda adalah contoh lain budaya penyeragaman ini. Soehardono
(2002) mengatakan bahwa budaya uniformitas inilah yang terutama
menjadi prakondisi yang pada gilirannya menjadi faktor kerentanan
peserta didik terhadap militerisme (dan terorisme). Kita harus
waspada bukan hanya jika sebuah sekolah mengajarkan kebencian, akan
tetapi jika sekolah itu sudah tidak lagi mendorong anak-anaknya
untuk memiliki pendapat yang mandiri dan bebas, dan bahkan
mewajibkan semua anak untuk menyuarakan pendapat yang sama.
Yang kedua adalah, sebagai ganti dari budaya penyeragaman,
pentingnya memasukkan pola pendidikan yang menghargai perbedaan dan
multi-kulturalisme; yang secara sempit dapat diartikan
sebagai 'Pendidikan Multukultural'. Pendidikan multikultural adalah
salah satu pendekatan dalam pendidikan yang menekankan perlunya
siswa mengenal dan menghargai budaya yang berbeda dari budaya asal
mereka. Dalam pendekatan multikultural siswa kita bukan saja
diperkenalkan pada budaya-budaya yang ada di dunia ini, akan tetapi
juga diajak untuk merasa bangga pada budayanya sendiri dan, yang
paling penting, menghargai bahwa 'si Polan' teman satu RT-nya itu,
memiliki budaya yang lain, yang juga sama indah dan berharganya
dengan budayanya sendiri. Dalam pendidikan multi-kultural budaya
yang berbeda itu bukan lagi sesuatu yang perlu disamakan, apalagi
dimusnahkan.
Selama ini pendidikan kita seringkali mengabaikan
pembicaraan mengenai 'keberbedaan' ini. Karena alasan 'SARA' guru
sering merasa rikuh untuk bicara bahwa si Jono itu kulitnya coklat
dan berasal dari Jawa, si Polan itu kulitnya hitam dan berasal dari
Ambon, dan seterusnya. Atau kalaupun ada pembicaraan mengenai
kultur, seringkali hanya terbatas pada pelajaran-pelajaran tertentu
dan sifatnya hanyalah 'pengetahuan' mengenai budaya lain. Padahal
pendidikan multikultural bukan sekedar ceramah tentang baju daerah,
dan kemudian setahun sekali mengadakan pawai baju daerah pada hari
Kartini. Pendidikan multikultural menekankan penghargaan pada mereka
yang 'berbeda' (budayanya, warna kulitnya, agamanya, dll.) melalui
interaksi sehari-hari. Pada pendidikan yang menekankan
multikulturalisme yang sejati, anak langsung secara praktis diajak
untuk menghargai budaya yang berbeda dari teman-teman sekelasnya
atau teman-teman di rumah.
Mengapa pendidikan yang menekankan penghargaan akan
keperbedaan ini menjadi begitu penting bagi negara kita? Di atas
telah saya singgung bahwa berbagai insiden konflik antar agama dan
etnis di Indonesia menjadi salah satu alasan kuat mengapa kita perlu
secepatnya memulai hal ini. Akan tetapi insiden-insiden tersebut
bukanlah alasan terkuat mengapa kita memerlukan pendidikan
multikultural. Alasan yang lebih mendasar adalah fakta bahwa anak-
anak kita hidup di lingkungan Indonesia yang multi-kultural, dimana
perbedaan budaya selalu ada. Setiap hari anak-anak kita akan selalu
menjumpai mereka yang berbeda. Orang-orang dari berbagai budaya,
etnis dan agama akan selalu mereka jumpai tiap hari, baik itu secara
langsung maupun tidak langsung; kecuali, yang lebih parah lagi, jika
kita dengan sengaja 'mengurung' mereka dalam dunia yang seragam.
Johnson-Bailey & Cervero (2002), mengatakan bahwa
keberbedaan itu dalam dunia sehari-hari nampak begitu jelas,
bagaikan seekor gajah yang berdiri di ruangan kelas kita (meski
sebenarnya mereka berbicara dalam konteks Amerika, tapi ucapan ini
sungguh tepat untuk masyarakat kita juga). Dengan sengaja
mengabaikan pembicaraan mengenai keberbedaan dalam pendidikan kita
adalah sama saja dengan mengabaikan kehadiran 'gajah' tersebut,
padahal ia nampak begitu jelas dalam ruangan kelas kita. Kelas-kelas
kita seolah-olah telah menjadi 'dunia lain' dimana perbedaan-
perbedaan itu tidak ada. Sedangkan dalam dunia nyata, tiap hari anak-
anak kita menjumpai perbedaan tersebut. Melalui pendidikan multi-
kultural kita mengajak anak-anak bukan hanya untuk 'melihat Gajah'
tersebut, tapi juga berteman dengannya.
Dalam konteks keberagaman masyarakat inilah kita bisa
melihat bahwa penutupan satu atau dua sekolah atau pesantren
bukanlah jawaban akhir dari permasalahan ini. Selama 'Gajah'
keberbedaan itu kita biarkan di ruangan kelas dan rumah kita,
masalah ini tidak akan pernah bisa tuntas. Melalui tulisan ini saya
ingin mengajak kita merenungkan bersama : Sudahkah anak-anak kita
diajarkan mengenai bagaimana menghargai perbedaan? Ataukah kita
membiarkan 'Gajah' itu berdiri di ruangan-ruangan kelas kita dan
rumah kita, tanpa kita pedulikan?
*Penulis adalah staf pengajar di Fak. Psikologi Universitas Surabaya,
sedang menempuh studi bidang pendidikan di Boston University
Atas beasiswa dari Kelly Stephens Foundation dan Fulbright Foundation