Ketika Kebenaran Ditafsirkan
diambil
dari http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=477
(Tanggal dimuat:
12/1/2004)
Demikianlah, kita mengimani Tuhan yang Satu, yang diinterpretasi dan diekspresikan melalui beragam nama,
menjadi tuhan-tuhan.
Doa harian
umat Sikh dimulai
dengan kata One Ekhi Omkar, Satu adalah Tuhan
dan Realitas Tertinggi adalah Satu. Shema, yang setiap hari dilantunkan
umat Yahudi, meneguhkan yang Satu: Dengarlah, hai Israel, Tuhan kita adalah
Tuhan yang Satu...
Umat Islam meneguhkan Tuhan yang Satu melalui syahadah: afirmasi iman kepada Allah sambil me-negasi-kan sesembahan-sesembahan
lain. Era awal Kristen, Paul, yang melakukan perjumpaan iman dengan orang-orang
Yunani di Athens
beserta tuhan-tuhan mereka, memproklamasikan bahwa yang Satu, yang disembah mereka sebagai yang tak diketahui, adalah Tuhan yang Satu yang menciptakan langit dan bumi. One
secara esensi, menjadi Many pada tingkat manifestasi. Itulah Kebenaran dan Tuhan,
menjadi kebenaran-kebenaran
dan tuhan-tuhan
ketika diinterpretasi dan dihayati oleh
milyaran umat manusia yang berbeda dari segi agama, etnik, ras, dan
bangsa.
Oleh: Sukidi
Ekam Sat Vipraha Bahudha Vadanti. Kalimat berbahasa Sanskrit ini termuat dalam
Rig Veda dan diinterpretasikan
umat Hindu sebagai
cara mendekati
Tuhan. Pilihannya
bukan Brahman, tapi Sat:
Realitas, Kebenaran,
atau Paul Tillich menyebutnya The Ultimate Reality. Ekam Sat Vipraha Bahudha Vadanti diinterpretasikan bahwa Realitas dan Kebenaran
adalah Tunggal,
tapi kita menyebutnya
dengan beragam nama. Tuhan yang Satu
pun diberikan nama-nama,
dan kemudian menjadi
plural. Karena itu, para sarjana berspekulasi bahwa tradisi Hindu bukanlah tradisi monoteisme secara teologis, tapi justru politeisme. Sayang, ada perspektif yang terlupakan dalam studi teologi Hindu. Diana
Eck, profesor Indian Sanskrit di
Universitas Harvard, memperkenalkan
darshana: soal
perspektif dan sudut pandang dalam mendekati Tuhan.
Dalam Upanishad Brihadaranyaka,
Vidagdha Sakalya
mengajukan dialog kreatif atas masalah politeisme
kepada Yajnavalkya,
seorang guru visioner dalam Hindu. Ada
berapa banyak tuhan, ya Yajnavalkya?
tanyanya. Sebanyak yang disebutkan dalam Himne untuk
Semua Tuhan, yakni 3.306, jawabnya. Ya, sahut dia, tapi hanya
ada berapa tuhan, ya Yajnavalkya?
Tiga puluh
tiga, jawabnya.
Ya, sahutnya
lagi, tapi hanya
ada berapa tuhan, ya Yajnavalkya?
Enam, jawabnya
lagi. Dialog pun terus
berlanjut. Dan jawabannya
pun terus mendekati
jumlah minimal. Tiga dan
bahkan sampai dua
tuhan. Ya,
sahutnya lagi, tapi hanya ada
berapa tuhan, ya Yajnavalkya? Satu setengah,
jawabnya. Ya, sahutnya terakhir
kali, tapi hanya
ada berapa tuhan,
ya Yajnavalkya?
Satu, jawab
Yajnavalkya yang akhirnya meneguhkan monoteisme dalam teologi Hindu.
Jawaban
monoteisme dari turunan politeisme, dengan memakai kerangka darshana model
profesor Eck, mengindikasikan
bahwa tradisi Hindu
adalah monoteisme dan sekaligus politeisme
secara teologis.
Tapi, semua tuhan
yang banyak dan
plural itu politeisme--, adalah sekadar nama dan
rupa. Sanskrit menyebutnya
namarupa, dan
karena itu menjadi many, banyak.
Sungguh pun begitu, sebenarnya
tetap saja One,
Satu. Many tapi One,
dan One yang menjelma
menjadi Many --yang menjadi
cara pandang yang
adaptif di kalangan
perennialis and new age--, menegaskan
bahwa Kebenaran
dan Tuhan adalah
One secara esensial,
tapi menjadi many
dalam bentuk kebenaran-kebenaran
dan tuhan-tuhan--
ketika ditangkap dan diinterpretasi oleh milyaran umat
manusia dengan latar belakang agama, etnik, ras, dan
bangsa yang berbeda-beda.
Demikianlah, kita
mengimani Tuhan yang Satu, yang diinterpretasi dan diekspresikan melalui beragam nama, menjadi
tuhan-tuhan. Doa
harian umat Sikh
dimulai dengan kata One Ekhi Omkar, Satu adalah Tuhan dan
Realitas Tertinggi
adalah Satu. Shema,
yang setiap hari
dilantunkan umat Yahudi, meneguhkan yang Satu: Dengarlah, hai Israel, Tuhan kita adalah Tuhan
yang Satu... Umat
Islam meneguhkan Tuhan yang Satu melalui syahadah:
afirmasi iman
kepada Allah sambil
me-negasi-kan sesembahan-sesembahan
lain. Era awal Kristen, Paul, yang melakukan perjumpaan iman dengan orang-orang
Yunani di Athens
beserta tuhan-tuhan mereka, memproklamasikan bahwa yang Satu, yang disembah mereka sebagai yang tak diketahui, adalah Tuhan yang Satu yang menciptakan langit dan bumi. One
secara esensi, menjadi Many pada tingkat manifestasi. Itulah Kebenaran dan Tuhan,
menjadi kebenaran-kebenaran
dan tuhan-tuhan
ketika diinterpretasi dan dihayati oleh
milyaran umat manusia yang berbeda dari segi agama, etnik, ras, dan
bangsa.
Karena kita hidup dan dihadapkan
pada kenyataan pluralitas agama, maka kita, didasari pada the will to believe, meyakini
bahwa Kebenaran
dan Tuhan yang telah dan terus
diinterpretasikan milyaran
umat manusia, telah
dan tetap akan berwajah plural, dan konsekuensinya, ada banyak kebenaran
(many truths) dalam tradisi
dan agama-agama. Nietzsche
menegasikan adanya Kebenaran Tunggal, dan justru bersikap
afirmatif terhadap
banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama, dengan mendeklarasikan bahwa semua agama entah itu Hinduisme,
Buddhisme, Yahudi,
Kristen, Islam, Zoroaster, dan lain-lain--
adalah benar, dan
konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan
pada semua agama.
Ibaratkan agama-agama
ini, dalam nalar pluralisme Gandhi, seperti pohon yang memiliki banyak cabang (many), tapi berasal dari satu
akar (the One). Akar yang satu
inilah yang menjadi
asal dan orientasi
dari agama-agama. Karena
itu, mari
kita memproklamasikan
kembali bahwa pluralisme
agama sudah menjadi
hukum Tuhan (sunnatullβh),
yang tidak mungkin
berubah, dan karenanya,
mustahil pula kita
lawan dan hindari.
Sebagai Muslim, tidak
punya jalan lain kecuali bersikap positif dan optimis
dalam menerima pluralisme agama sebagai hukum Tuhan.1
Sukidi, Mahasiswa
S-2 di Universitas
Ohio, Athens, Amerika.
|