beranda.net logo

beranda > artikel > noisy withdrawal

 

"Noisy Withdrawal" atawa Mundur dengan "Berisik"

D. Manggala (5 Nopember 2004)

Salah satu pasal dalam Sarbanes-Oxley Act menyebutkan tentang noisy withdrawal yaitu kewajiban buat seorang lawyer disebuah perusahaan publik AS untuk mundur apabila menemukan suatu pelanggaran dalam perusahaan tersebut dan laporan mereka kepada CEO tidak ditanggapi. Ini kemungkinan diilhami oleh terbongkarnya skandal Enron setelah salah seorang eksekutifnya mundur dan kemudian melaporkan adanya ketidakberesan dalam financial statment perusahaan tersebut termasuk juga dalam management-nya. (Untuk membaca lebih lanjut tentang Sarbanes-Oxley Act, silahkan klik bagian Corner diatas).

Orang yang mundur dengan berisik ini, oleh media disebut juga whistle blower istilah yang identik dengan para penyuara pertama adanya ketidakberesan disuatu institusi.

Nah, apakah surat permohonan pergantian pimpinan TNI dari Panglima TNI kepada Presiden (waktu itu) Megawati termasuk jenis noisy withdrawal? Rasanya iya juga, karena itu bisa diinterpretasikan sebagai ketidaksetujuan atas tindakan Presiden Megawati memberikan kenaikan pangkat kepada Hari Sabarno dan Hendropriyono. Alasan Panglima TNI cukup kuat: tidak sesuai dengan undang-undang. Karena atasan tidak melakukan kebijakan dalam koridor undang-undang, maka tindakan yang patut diambil (setelah rekomendasi bawahan tidak dituruti) tentunya mundur.

Mengingat tingginya posisi Panglima TNI, mundur diam-diam pun akan mengakibatkan kegemparan nasional (apalagi media publik lagi semangat-semangatnya), yang tentunya bagi publik bisa mencari tahu ada apa dibalik pengunduran diri itu. Untuk institusi-institusi yang penting, sepertinya tindakan ini patut ditiru sebagai cara untuk memberi tahu pada publik tentang adanya penyimpangan dalam suatu institusi yang dilakukan oleh pucuk pimpinannya; tentu saja setelah cara yang normal seperti menegur atasan (apa boleh?) telah dilakukan.

Noisy withdrawal ini, kalau kita sosialisasikan penggunaannya, mungkin akan jadi salah satu alternatif pengawasan lembaga publik termasuk didalamnya pemberantasan korupsi. Saya sering mendengar bahwa banyak orang yang ingin memperbaiki sistem merasa tidak berdaya karena yang melakukan penyimpangan adalah pimpinan tertinggi di institusinya. Banyak yang bilang mereka sebenarnya tidak mau korupsi, tapi karena satu departemen semua korupsi, ya terpaksa ikut nerima ketika ada pembagian hasil korupsi dari suatu proyek.

Jalan yang agak ideal kalau kita tidak mau ikut korupsi yang dilakukan atasan kita adalah mengajukan pengunduran diri dengan "berisik", yakni sambil mangadukan data-data korupsi tadi kepada publik melalu media massa, kejaksaan, polisi dan LSM. Diharapkan dengan adanya laporan kita, akan ada penyelidikan baik dari Kepolisian/Kejaksaan maupun lembaga lain. Kalau ini berjalan efektif, tentu dalam jangka panjang korupsi bisa dikurangi.

Hambatannya tentu saja dalam aplikasi; untuk menjadi seorang whistle blower perlu mental baja dan idealisme yang luar biasa. Dukungan keluarga adalah yang paling utama, karena resikonya adalah kita kehilangan pekerjaan (dan penghasilan) tanpa ada penelitian dari kasus yang kita laporkan. Bahkan yang lebih riskan adalah kita mendapat tuntutan hukum karena mencemarkan nama baik, memberikan laporan palsu ataupun karena membocorkan rahasia perusahaan/negara.

Di negara kita, hal ini diperparah lagi karena lembaga keadilan yang diharapkan menjadi tumpuan terakhir, malah banyak yang menjadi sumber penyimpangan seperti adanya indikasi mafia di pengadilan, kejaksaan ataupun kepolisian seperti banyak diberitakan oleh media cetak maupun elektronik (kasus Adrian Woworuntu, Tommy Soeharto, Akbar Tanjung, Tempo,dll).

Tentu saja ide noisy withdrawal ini tidak hanya untuk para pejabat pemerintah atau pegawai negeri. Ini bisa juga dilakukan oleh para pegawai perusahaan swasta yang melihat perusahaannya dengan sengaja melakukan pelanggaran, seperti pencemaran, penggelapan pajak maupun perlakuan yang tidak manusiawi kepada pekerja.

Sebuah film yang dibintangi oleh Russel Crowe berjudul The Insider melukiskan betapa beratnya menjadi whistle blower. Tokoh yang diceritakan dalam film ini dikisahkan menemukan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan rokok tempatnya bekerja dimana ada indikasi menambahkan zat kimia yang mungkin menyebabkan para penikmat roko itu kecanduan. Tokoh ini bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga kehilangan istri (karena tidak tahan dengan perjuangannya) serta tidak berhasil membawa isu ini kepada publik; televisi yang berencana menyiarkan laporan hal itu ternyata tidak berani karena tekanan dari para pemodal rokok. Pada akhirnya memang tokoh kita berhasil menang di pengadilan berkat kegigihannya serta dukungan seorang produser TV idealis (diperankan Al Pacino), dan isunya menjadi bahan diskusi publik setelah disiarkan secara luas lewat TV. Tapi perjuangan yang dialaminya adalah luar biasa besar, termasuk ancaman terhadap jiwanya dan jiwa keluarganya.

Pada akhirnya, mungkin hanya orang-orang gila yang bisa mempertahankan idealisme-nya...hanya orang-orang gila yang bisa mengubah dunia.

Ups...kok jadi cerita serius ya? Tapi, anda berani jadi whistle blower?