beranda.net>Artikel>Panduan Pemilih>Jangan Pilih "Politisi Busuk"
| << Bagian VI:Jangan Terjebak Kultus Selebriti Bagian VIII: Keterwakilian Gender, Bukan Jenis Kelamin >> VII. JANGAN PILIH “POLITISI BUSUK” Memilih kandidat DPD, DPR, DPRD adalah memilih buah dari tumpukan buah dalam satu keranjang besar. Berhati-hatilah memilih. Salah-salah, Anda bisa mendapatkan buah yang busuk. Kita mesti bersyukur sekaligus bersikap kritis atas kampanye tidak memilih politisi busuk yang dilakukan oleh berbagai kalangan menjelang dan selama Pemilu 2004 ini. Bersyukur, karena – terlepas bahwa tidak semua cara dan substansi kampanye atau gerakan ini kita setujui – kampanye itu mengingatkan kita sebagai pemilih untuk berhati-hati dalam menentukan pilihan. Tetapi, kita tetap mesti kritis pada kampanye atau gerakan ini. Misalnya saja, kritis pada ketidakjelasan kriteria politisi busuk yang dipakai oleh setiap “eksponen” gerakan ini. Namun, bagaimanapun kita sebagai pemilih, sendiri-sendiri, dengan mengandalkan hati nurani kita, sebetulnya berkemampuan untuk menilai kandidat mana yang busuk, mana yang tidak terlalu busuk, dan mana yang tak busuk. Hati nurani inilah yang selayaknya digunakan di bilik suara 5 April besok. Di bawah ini adalah kritik dan masukan saya untuk Gerakan Nasional Tak Pilih Politisi Busuk (GNTPPB). Silakan dibaca jika merasa perlu. Jika tidak, silakan langsung loncat ke bagian berikutnya. [POLITISI BUSUK?] [ESF, Koran Tempo 08032004] Semenjak dideklarasikan di Tugu Proklamasi Jakarta, 29 Desember 2003, Gerakan Nasional Tidak Pilih Politisi Busuk (GNTPPB) menjadi bola salju, menggelinding membesar ke mana-mana. Ia disambut antusias tak hanya di Jakarta tapi juga di kota-kota lain, oleh sangat beragam kalangan. Ia pun menjadi kabar baik dan buruk sekaligus. Gerakan sosial yang layak di Indonesia bukanlah gerakan berpusat tunggal, tersentralisasi, dan dikerjakan oleh sebuah badan besar beridentitas nasional. Gerakan yang layak adalah yang berpusat banyak, tersebar, digerakkan oleh beragam kalangan-organisasi, membentuk jaringan, bak gayung bersambut, bersahut-sahutan, berbasis lokalitas, komunitas, dan bahkan individu. Penyebaran GNTPPB, dalam batas-batas tertentu, memperlihatkan tanda-tanda ke arah itu. Ia pun sebetulnya potensial menjadi gerakan yang layak. Ini jelas kabar baik. Tetapi di baliknya, terselip kabar buruk. Gerakan ini makin mencemaskan karena potensial menjauh dari tugas dasarnya. Ia potensial berkhianat pada alasan hidupnya, ration d’etre-nya. Izinkahlah saya berbagi kecemasan ini. Gerakan seperti ini – terlebih-lebih karena ia bertujuan mengajak pemilih tak memilih “politisi busuk” – adalah sebuah bisnis kepercayaan. Modal utamanya adalah kredibilitas. Tanpa modal ini, ia akan berhenti menjadi mainan kanak-kanak: ramai, hiruk-pikuk, tapi sekadar mencari kesenangan. Menjaga kredibilitas jelas tak mudah. Untuk menjadi kredibel, gerakan ini dituntut mengkalirifikasi secara terang benderang kritera politisi busuk, menjaga metode pengumpulan data dan penyimpulannya, dan menggunakan cara dan gaya kampanye yang elegan berhadapan dengan para pemilih yang menjadi target sasaran kampanye mereka. Menjaga kredibilitas juga menuntut keseriusan, konsistensi, kehati-hatian, kecermatan, dan kejernihan atau objektivitas. Tergopoh-gopoh dan gegabah sama sekali tak diperlukan. Di atas segalanya, kredibilitas juga menuntut otentisitas. Gerakan ini dituntut bisa menjaga diri, menjauhkan diri dari penunggangan politik berbagai pihak yang memang berkehendak saling menudingkan kata “busuk” satu sama lain. Setahu saya, para penggagas awal gerakan ini sebetulnya sudah menyadari keperluan akan kredibilitas dan cara-cara menjaganya. Setidaknya, begitulah yang saya pahami dari penjelasan Teten Masduki, salah seorang penggagasnya, di Solo, Juli tahun lalu. Tapi saya cemas karena justru kredibilitas ini lah yang sekarang makin tanggal dari gerakan ini. Sumber kecemasan lain datang dari pretensi gerakan ini untuk menjadi hakim, pemberi vonis para politisi. Padahal, semestinya ia tak jadi hakim melainkan advokat atau asisten para pemilih saja. Tugasnya bukanlah memvonis melainkan menyiapkan data, membangun database, mengemasnya menjadi bahan publikasi ringkas – poster, pamphlet, newsletter, dan berbagai bentuk media murah-massal lainnya – tentang para kandidat (DPR, DPRD, DPD, Presiden-Wapres) untuk konsumsi para pemilih. Tugasnya menyediakan informasi yang memadai bagi para calon pemilih sehingga mereka bisa menggunakan atau tak menggunakan hak pilihnya secara baik. Sesuai dengan namanya, GNTPPB semestinya memfokuskan diri pada pemilih. Ia pengabdi rumus baku demokrasi: Pemilih yang bertanggung jawab tak akan memilih politisi bermasalah, tercela, busuk, atau apapun namanya. Tugas gerakan ini pun bukan memberi stempel “busuk” di kening para politisi, melainkan mempersuasi dan meyakinkan calon pemilih untuk menggunakan atau tak menggunakan hak pilihnya secara bertanggungjawab. Maka, yang patut kita tunggu dari gerakan ini bukanlah daftar politisi hitam, apalagi sekadar daftar tanpa kelengkapan informasi dan sumber. Yang patut ditunggu adalah tertempelnya dan tersebarnya poster, pamplet, foto copy selebaran atau newsletter dan atribut kampanye sederhana-murah-massal lainnya, di gang-gang, halte bus, dan tempat-tempat lain yang mudah diakses orang banyak, selama masa kampanye, berisi data singkat track record satu per satu kandidat yang bisa terdata (apa jabatan yang pernah dijabatnya, pernahkah diberitakan terlibat skandal, pernah diadili karena penyelewengan kekuasaan atau berbuat criminal, dan lain-lain). Daftar politisi busuk tak akan dengan serta merta memandu pemilih untuk melakukan pilihan dengan baik, memilih kandidat di luar daftar itu. Daftar itu justru bisa punya efek generalisasi, gebyah uyah: meyakinkan bahwa semua politisi sama busuknya. Bukankah, seperti pernah diingatkan Henry Kissinger, “90 persen politisi memberi 10 persen sisanya nama buruk.” Jika ini yang terjadi, daftar itu justru akan meninabobokan keengganan orang untuk menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab atau mengembangkan apati yang membabi buta. Fungsi gerakan ini, secara tak langsung, justru mengingatkan dan menyediakan informasi bahwa tak semua politisi sama buruknya. Ia mempersuasi pemilih untuk mencari “10 persen politisi” yang tak busuk di keranjang buah busuk. Tetapi, saya cemas. Gerakan ini makin hari tampaknya semakin alpa pada alasan hidup dan tugas asasinya. Semakin hari ia potensial menjadi teriakan lantang tanpa kredibilitas. Ia potensial berkhianat pada alasan hidupnya: ikut serta memperbaiki kualitas para pemilih dan dengan itu menaikkan kualitas demokrasi -- bukan menurunkannya.
|