beranda.net>Artikel>Politikus, Orang Awam dan Media Massa

Politikus, Orang Awam dan Media Massa

Oleh: D.Manggala

“Everything is sexual...everything is political…everything is aesthetic; all at once...” -Jean Baudrilliard-

Setiap kali Pemilu datang, tiba-tiba saja rakyat menjadi sosok yang mahapenting bagi para politikus. Karena pada saat itu, rakyat atau orang awam merupakan kunci survival setiap partai; untuk bertahan paling tidak sampai Pemilu berikutnya. Orang awambagi politikus-  hanyalahmassa mengambangkumpulan massa yang kehilangan makna, tak punya kekuatan, dan hanya mempunyai arti satu hari setiap lima tahun. Terima kasih buat para politikus dan………media massa.

Orang awam bagi politikus hanyalah bahan untuk analisis, statistik, jajak pendapat yang berguna untuk tujuan ‘marketing’ dalam memenangkan partainya. Politikus dewasa ini telah kehilangan “big picture“ dari sebuah perjuangan politik. Juga kehilangan idealisme. Mereka hanya melihat sasaran jangka pendek, yakni Pemilu, dengan menggunakan berita media massa sebagai tolok ukur keberhasilan. Sukses sebuah partai, hanya dilihat dari berita di televisi atau koran, hasil jajak pendapat maupun komentar para analis.Dengan bantuan berita media massa, partai yang mendapat hasil jajak pendapat yang bagus akan menggiring orang awam untuk memilih partai tersebut. Pembentukan image dengan bantuan media massa mungkin adalah strategi utama tiap partai, bukannya menyusun strategi untuk mensejahterakan rakyat. Yang akan terjadi kurang lebih seperti lingkaran menyesatkan antara film yang diberitakan sebagai box office dengan jumlah penonton. Jika sebuah film dimuat di koran sebagai box office, orang awam akan berbondong-bondong menonton film itu, yang kemudian menjadi berita yang lebih besar lagi di media massa, dan tentu saja mendorong lebih banyak orang untuk berbondong-bondong untuk menonton film itu. Apakah itu memang film bagus atau bukan, lain soal; yang penting image sudah terbentuk.

Ditambah lagi dengan kecenderungan media massa mem-blow up berita yang sedang laku dijual, akhirnya terjadi kekaburan luar biasa dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. Tidak jelas lagi antara image yang dibentuk oleh media dengan realita, yang menurut istilah Jean Baudrilliard, inilahhyperreality”. Semua informasi baik di televisi maupun di koran menjadi sangat membingungkan; “Everything is sexual...everything is political…everything is aesthetic; all at once...Semua campur baur, politik dan kejahatan bisa menjadi hiburan, politikus bisa menjadi pelawak. Opini menjadi realita. Orang awam tidak bereaksi lagi terhadap kegiatan politik; berita politik sama saja dengan berita olahraga, hiburan maupun iklan. Kita menjadi paranoid terhadap politik; menjadi teralienasi. Akibatnya salah satu kekuatan besar sebuah bangsa untuk berkembang dan maju menjadi teramputasi. Tanpa partisipasi orang awam dalam politik, bangsa kita tidak akan maju.

Ketidakperdulian orang awam terhadap dunia politik, kemungkinan memang diinginkan oleh sebagian besar politikus. Dengan demikian, para politikus dengan leluasa membuat kebijakan atau aktivitas yang sesuai dengan tujuan kepentingan pribadi atau partainya. Orang awam hanya perlu berpartisipasi sekali lima tahun, diluar hari pencoblosan harap jauh-jauhlah dari politik. Politik itu kotor…demikian yang selalu didengung-dengungkan (oleh politikus itu sendiri). Tujuannya memang menjauhkan rakyat dari politik, karena dunia politik, pada satu sisi, sarat dengan kekuasaan dan tentu saja uang. Semakin ignorant orang awam, semakin besar keuntungan pribadi para politikus; semakin terpuruk pula bangsa ini.

Tapi tentu saja ini bukan akhir dunia. Hidup adalah hidup, memang demikian adanya. Ada orang jahat ada orang baik. Pasti masih ada politikus yang masih punya idealisme untuk membangun bangsa. Masih ada media massa yang masih mempunyai idealisme untuk memajukan masyarakat.

Yang penting bagi kita orang awam adalah tidak usah menunggu ratu adil atau satria piningit. Satria yang ditunggu-tunggu adalah bangunnya seluruh rakyat.

Yang penting bagi kita adalah membuang ketidakpedulian kita. Ignorance is evil. Jangan sampai politikus dan media massa membuat kita menjauhkan diri dari politik, karena setiap kebijakan politik adalah menyangkut harkat hidup kita rakyat jelata. Sikap acuh tak acuh mesti diganti dengan sikap skeptis dan kritis; baik terhadap politikus maupun terhadap media massa. Perjalanan memang masih panjang, tapi paling tidak kita bisa mulai dari sekarang.