| Supernova
adalah karya Dee (Dewi Lestari) yang sampai tulisan ini dibuat
telah terdiri dari tiga novel: Ksatria, Putri, dan
Bintang Jatuh, seri 2.1. Akar, dan
2.2. Petir
Supernova, Menurut Saya
D. Manggala (10 Maret 2005)
Mengarang itu sangat
tidak gampang; sebaliknya, ngasih komentar itu gampang sekali.
Itu sebabnya lebih banyak review daripada buku. Lebih banyak
komentator daripada kreator...:)
Dee adalah
penulis muda favorit saya saat ini. Sebenarnya saya kurang
banyak referensi juga sih karena tidak terlalu banyak novel
yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu yang
juga sangat kuat membekas di kepala saya adalah Saman
karya Ayu Utami (yang mungkin hampir semua
orang sudah baca ya?)
Sengaja dalam melakukan review
ini saya tidak membuka lagi ketiga novel Supernova, saya lebih
memilih melakukan review dari apa yang masih nempel di kepala
saya. Semua pujian kepada Dee dan Supernova adalah semata-mata
karena menurut saya memang buku atau pengarangnya bagus, bukan
karena saya akan dapat bonus atau hadiah dari Dee; begitu
juga semua kritik saya untuk Supernova dan Dee adalah memang
karena menurut saya perlu dikritik, bukan karena saya ngga
suka atau sirik..:)
Saya membaca ketiga novel karya Dee itu dalam tiga kesempatan
yang beda....Supernova 1 dihadiahkan oleh pacar saya dulu
sekitar tahun 99 (atau 2000?), saya baca dari awal sampai
habis selama menunggu di airport, di pesawat dan di bis menuju
rumah. Supernova Akar saya pinjem dari temen, dibaca di rumah
dari siang sampai siang besoknya di sekitar bulan Juni 04.
Supernova Petir saya beli sendiri, saya baca saat menunggu
di airport, di pesawat dan di bis (persis kayak yang pertama)
di awal tahun 2005 ini.
Benang merah dari cerita saya diatas adalah bahwa Dee bisa
membuat saya tidak melepas novel itu selama saya membacanya;
ini tidak banyak saya alami saat membaca buku atau novel.
Ada beberapa sih yang saya ingat novel-novel yang bisa bikin
lupa waktu yaitu Saman, juga Burung-Burung
Manyar karangan Romo Mangun, Mimpi-mimpi
Einstein serta Celestine Prophecy.
Oh iya, ada lagi... buku silat seri Kho Ping Hoo
yang bikin kecanduan waktu SD dan novelnya Eiji Yoshikawa
(Musashi dan Taiko)
yang bikin telat ngumpulin tugas waktu kuliah.
Walaupun bukan termasuk kategori spiritualis ataupun relijius,
saya termasuk yang menerima Supernova lebih dari novel biasa.
Menurut saya, Dee mungkin orang yang "tahu" sesuatu
yang tidak saya tahu...
Supernova 1 (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh)
mengingatkan saya dengan Dunia Sophie dari
segi alur cerita yang membaurkan antara kehidupan tokoh dalam
"sebuah cerita" dengan tokoh di dunia "nyata".
Dari sisi memparalelkan fisika kuantum dan metafisika, Dee
mengingatkan saya dengan Fritjof Capra yang
menulis Tao of Physics. Terus terang, secara
teknis saya kurang mengerti detail penjelasan Capra tentang
hubungan fisika kuantum dengan filsafat timur; sebagaimana
saya tidak mengerti penjelasan Dee tentang istilah-istilah
ilmiah yang dimasukkan dalam novelnya Bagaimanapun, Dee tetap
menyihir saya dalam novelnya...kagum dengan ide-ide di kepalanya
serta dengan kekuatan kata-kata dan puisinya. Selain pasangan
homo Dimas-Ruben dan pasangan kasih tak sampai (siapa tuh
namanya?), tokoh yang menjadi pilar utama dari cerita ini
adalah Diva.
Supernova Akar diawali dengan kontroversi.
Jauh sebelum membaca novelnya, saya tidak setuju dengan sampul
novel tersebut yang menampilkan Omkara sebagai
gambar sampulnya. Secara pribadi, ketidaksetujuan saya bukan
karena saya merasa harus membela Tuhan atau agama saya, namun
lebih disebabkan karena alasan praktis yakni tidak mau terjadi
image yang mengasosiasikan Omkara dengan Supernova.*
Jangan sampai image yang mengasosiasikan Swastika
dengan Nazi, terulang lagi di masa sekarang
atau nanti....(ini maksudnya bukan mengatakan Supernova sama
dengan Nazi lho...). Poin saya biarlah Supernova nyari sendiri
lambangnya..gitu lho...toh akhirnya lambang bolong juga keren...(Btw,
tulisan panjang saya tentang simbol-simbol agama Hindu ada
disini). Kalau Supernova 1 bicara tentang dunia intelek,
sains dan kaum metropolis (eh sekarang ada istilah metrosexual
ya), maka Akar bicara tentang tattoo, adventure &backpackers,
anak-anak punk dan ganja. Disini kita bertemu dengan sosok
Bodhi dan Bong. Juga ada Ishtar dan Kell.
Dari segi alur cerita, kita mungkin akan teringat dengan
Balada si Roy-nya Gola Gong...tapi
sekali lagi Dee punya kelebihan sendiri...Ia meramu diskusi
tentang pencarian jati diri dalam cerita petualangan yang
enak dibaca. I still haven't found what I am looking
for...
Berbeda lagi dengan Supernova Petir. Cerita
diramu dalam suasana keseharian seorang gadis (yang awalnya)
pemalas, yang mungkin mengingatkan kita pada cerita kebanyakan
orang. Gadis itu bernama Elektra (yang mengingatkan saya pada
Carmen Electra hehehehe....hush!). Seperti Bodhi, Elektra
juga punya kekuatan khusus karena tubuhnya secara alamiah
punya muatan listrik yang besar....(bagi yang belajar kundalini,
meditasi atau tenaga prana, tentunya langsung mengangguk mengerti
ya?). Yang menarik disini Dee menampilkan sosok Watti, kakak
Elektra yang mewakili masyarakat kota besar: ignorant dan
matre. Juga ada tokoh Mpret yang menurut saya mewakili sosok
pintar, cuek dan idealis kronis. Yang paling menarik bagi
saya adalah dalam Petir ini Dee sangat berani memaparkan tulisan
kritis tentang keturunan Cina yang dipadu dengan diskusi panjang
dan menarik tentang esensi beragama. Nah, ini baru penulis
kereeeen!!!
Begitulah...ketiga novel diatas istimewa buat saya, tapi
saya menaruh perhatian besar kepada Supernova 1 karena seolah-olah
muncul keajaiban di dunia novel Indonesia...kok bisa hebat
gitu lho...sim salabim dari penyanyi yang lembut tiba-tiba
menyodorkan sesuatu garang! Lain dari yang lain!.. Selain
itu, di Petir saya merasakan lagi kesimpulan bahwa Dee memang
spesial....perasaan yang sama pernah muncul sehabis nonton
Kill Bill 2, yang waktu itu langsung merasakan Quentin
Tarantino memang spesial...Dan jangan lupa, Supernova
pada awalnya diluncurkan dengan semangat indie sejati. Cool!
Banyak yang mengatakan bahwa antara Supernova seri yang satu
dengan yang lain tidak ada hubungannya...saya sendiri memang
tidak persis tahu hubungannya apa, tapi selain kemunculan
tokoh-tokoh secara sekilas dalam seri yang berbeda...kalau
saya nebak memang tokoh-tokohnya akan bertemu diseri-seri
berikutnya (ini nebak aja lho...). Kayak misalnya apakah Elektra
itu ternyata Diva? Atau pada bagian akhir Petir, Elektra bertemu
dengan sosok misterius yang kalau saya tebak dia adalah....
Bodhi...(lewat persaudaraan Mpret dan Bong, dan pertemanan
Bong dan Bodhi). Ini mah Friendster sejati
deh...:) Selain itu lagu Eyes in the Sky
yang disebut-sebut dalam Akar, apa ngga secara grafis muncul
sebagai sampul Petir?
Mungkin benar kata orang-orang bahwa spiritualisme adalah
benang merah dari Supernova. Karena saya jauh dari dunia spiritual,
tentu saja nangkepnya rada susah.... yang agak jelas bagi
saya adalah Dee doyan banget dengan orang keturunan atau campuran
("Indo")...ada yang campuran dengan Mesir..Irlandia..keturunan
Cina...India...sampai-sampai Mpret juga keturunan Italia..!!
Bagaimanapun, Supernova menurut saya adalah karya spesial...layak
dikoleksi. Kita mesti beli yang asli dan jangan beli bajakannya,
apalagi fotokopiannya. Penulis seperti Dee mesti dihargai
biar cepet muncul pengarang keren yang lain...(ngomong-ngomong
kaum lelaki kemana nih? Dari dunia wanita udah muncul...Dee,
Ayu Utami, Djenar Maesa,dll....). Bagaimanapun, Dee telah
memberikan warna khusus yang penting buat dunia kita..eh,
paling ngga, buat dunia saya. Supernova berikutnya pasti akan
saya beli dan baca. Untuk yang belum baca (kalau ada), I recommend
you all of Supernova series. Nice reading.
* catatan buat Dee...mungkin
tahu dan mengerti puisi dibawah ini...
Omkaaram Bindusamyuktam Nityam Dhyaayanti
Yoginah
Kaamadam Mokshadam Chaiva Omkaaraaya Namo Namah
|