D. Manggala (16 Mei, 2004)
Ok,
sebagian besar
dari kita mungkin
sudah cukup
bosan mengucapkan atau mendengar kata Six Sigma. Nah, sekarang ada lagi Lean Six Sigma…apa lagi
nih? Di
dunia bisnis,
sudah beberapa kali diperkenalkan “senjata revolusioner” yang pada masanya dianggap
sebagai strategi
dan alat yang akan menjadi competitive
advantage bagi suatu perusahaan/organisasi.
Kalau dilihat
beberapa tahun
ke belakang, ada
beberapa trend yang menonjol
seperti Total Quality Management
(TQM), Reengineering, serta Downsizing/Rightsizing. Konsultan-konsultan,
majalah, koran,
lembaga kursus,
dan lembaga pendidikan
ramai-ramai memperkenalkan,
mengajarkan ataupun
menjual istilah-istilah tersebut. Sebagian pihak yang skeptis,
sering menyebut
gejala tersebut sebagai fad (trend sesaat);
istilah yang bisa dianalogikan dengan kegemaran remaja memakai anting di hidung,
misalnya. Jadi,
managemen yang menerapkan TQM dengan menggebu-gebu dianggap sama
genitnya dengan
remaja yang memakai anting di hidung.
Hanya bertahan
sesaat saja!
Nah, apakah Lean Six Sigma juga demikian? Apakah
hanya akan
menjadi “fad of the year”
di tahun
ini atau tahun
depan? Ternyata jawabannya bisa
beragam. Seperti
halnya TQM yang sangat berhasil diterapkan di Jepang, atau
reengineering dan downsizing yang
cukup sukses
diterapkan di beberapa perusahaan
besar di
Ameriks Serikat, keampuhan Lean Six Sigma juga akan sangat
tergantung dari
bagaimana suatu perusahaan menerapkan strategi ini di
organisasinya.
Lean Six Sigma adalah perkembangan terakhir dari Six Sigma setelah berfusi dengan Lean Process. Buat sekadar
refreshing, ada baiknya
kita ulas masing-masing komponen Lean Six Sigma secara singkat.
Six Sigma
Six Sigma adalah suatu
metode yang dikembangkan
oleh Motorola sejak tahun 1980-an. Six Sigma mengacu
kepada suatu proses
yang berada dalam
range 6 sigma, dimana
sigma disini adalah
simbol dari standar
deviasi suatu
proses. Mengapa 6 sigma? Karena proses yang berada dalam jangkauan 6 sigma adalah suatu proses
yang mempunyai kemungkinan
hanya 3,4
cacat/defect per satu juta produk/proses.
Bisa dikatakan konsep
six sigma ini adalah
sebuah pengembangan dari konsep “zero defect”
yang dikembangkan di tahun 1970-an oleh
Phillip Crosby terutama
dalam kuantifikasi target yang lebih realistis. “Zero defect”
memang ideal, tapi sangat sulit dalam
kenyataan di
lapangan.
Selain itu, jika
ditelusuri lebih jauh, konsep six sigma ini adalah suatu
evolusi dari
sejarah panjang penggunaan statistik serta penggunaan metodologi yang sistematis yang
dalam perkembangannya dipengaruhi oleh ide “customer oriented process.” Dimulai dari munculnya
Statistical Process Control (SPC) di tahun 1930-an dengan
pelopor Walter Shewhart,
TQM di tahun 1940 dan 1950-an yang berkembang
pesat di Jepang
dengan “guru”-nya
Edwards Deming dan Josef
Juran yang akhirnya
menjadi faktor terbesar yang membuat industri manufaktur di Jepang
merajai dunia.
Dalam usaha mencari
rahasia keunggulan
Jepang inilah akhirnya
Motorola ‘menciptakan’
konsep Six Sigma dan
kemudian bersama General Electric
(GE) berhasil mengimplementasikan Six
Sigma sebagai sebuah
senjata ampuh dalam
kompetisi global. Singkatnya,
Six Sigma bukanlah konsep
yang baru sama
sekali melainkan sebuah kombinasi dari Statistical Process Control, Total Quality Management
yang kemudian dikaitkan
langsung dengan financial performance.
Sebagai tambahan, Six Sigma juga banyak menggunakan
Design of Experiment (DOE) terutama
dalam proses yang masih perlu menentukan
faktor dominan
yang mempengaruhi proses tersebut.
Kenapa jangkauan 6 standar
deviasi dianggap
cukup ideal dalam proses? Seperti disebutkan sebelumnya, ini karena dengan
6 sigma kemungkinan untuk
terjadinya cacat/kesalahan dalam 1 juta proses
adalah hanya
3,4 saja; atau 99,9997% proses dalam batas
standar.
Sebagai ilustrasi, jangkauan
1 sigma akan menghasilkan
kemungkinan 690.000 cacat/kesalahan
dalam 1 juta
proses .
Level
3 sigma akan menghasilkan
kemungkinan cacat sebanyak 66.807 dalam satu juta proses
(93,32% dalam
standar).
Mengapa suatu proses
tidak cukup
misalnya dengan level 99% dalam standar/specs, dalam hal ini
4 sigma?
Hal
ini karena
tingkat kemungkinan kesalahan masih cukup besar yakni
6.210 cacat dalam
satu juta proses.
Suatu proses
yang 99% dalam standar mungkin
dalam beberapa
jenis proses sudah
cukup baik,
tapi dalam kebanyakan
proses, ini
masih jauh dari
harapan. Contohnya, dengan level 4 sigma, bisa diprediksikan terjadi kira-kira 5.000 kesalahan operasi di rumah sakit
dalam satu
minggu, atau kira-kira
7 jam listrik padam
tiap bulan.
Lean Process
Jika Six Sigma terfokus pada mengurangi variance dalam
suatu proses,
sehingga proses/produk semaksimal mungkin berada di dalam
kontol/standard, maka
lean process lebih menitikberatkan
kecepatan proses. Dalam hal
ini, istilah-istilah
seperti time traps, value added time dan
process cycle efficiency menjadi kata-kata kunci. Contoh paling gampang dari non-value added time
adalah material (inventory
di warehouse, work in process
goods) yang terlalu lama menunggu
untuk masuk ke proses
berikutnya.
Lean Six Sigma
Perkawinan antara Six Sigma dan Lean Process adalah suatu hal yang alami dalam pelaksanaan
baik Six Sigma ataupun
Lean Process. Jika kita
hanya melaksanakan Six Sigma project,
seringkali kita
juga mesti merampingkan
proses kita
untuk mengurangi langkah-langkah yang tidak perlu. Tanpa perampingan
proses, penghematan
mungkin tidak dapat
maksimal jika
hanya mengandalkan pengurangan variance.
Demikian halnya dengan implementasi
Lean Process.
Hanya dengan
melakukan perampingan process, peningkatan kecepatan mungkin tidak akan berarti apa-apa jika variasi
dalam proses
terlalu besar. Seperti yang selalu dikumandangkan oleh para guru quality: “customers sense the variance.”
Misalnya dalam pelayanan
di bank. Mempunyai
rata-rata pelayanan pelanggan
sebesar 3 menit
tidaklah berarti apa-apa jika variasinya
terlalu besar,
misalkan pada satu
waktu waktu
pelayanan adalah 1 menit sedangkan di lain waktu,
lama pelayanan adalah
30 menit.
Tantangan Implementasi
Tantangan terbesar
dalam implementasi Lean Six Sigma adalah
pola pikir.
Seperti halnya TQM, Lean Six Sigma
bukanlah sekadar
proyek ataupun program seperti halnya proyek untuk
mengupgrade maintenance planning
system, misalnya. Pelaksanaan Lean Six Sigma memerlukan perubahan
culture di perusahaan atau organisasi yang ingin
menerapkannya secara serius. Oleh karena itu, management
(dalam hal ini CEO, CFO, dan COO atau manajemen tingkat
tinggi) mesti benar-benar memahami pentingnya culture yang
mendukung implementasi tersebut. Yang paling utama adalah,
struktur organisasi mesti disesuaikan jika ingin implementasi
ini benar-benar sukses. Dibentuknya suatu struktur yang
memungkinkan adanya full-time six sigma black belt
dalam organisasi sangatlah penting. Hanya mengandalkan quality
enthusiast yang mengerjakan proyek six sigma sebagai
‘ekstra kurikuler” atau proyek sampingan dijamin akan mengulang
kegagalan perusahaan-perusahaan besar Indonesia dalam menerapkan
TQM. Selain itu, penting juga untuk kita renungkan bahwa
jika kita mempunyai banyak opportunity untuk cost saving
melalui Lean Six Sigma, ada baiknya untuk mengikuti Pareto
Principle; yakni untuk lebih focus pada 20% proyek yang
penting yang diharapkan dapat menghasilkan 80% dari total
penghematan. Bagaimana cara menentukan yang mana proyek
yang lebih penting dibanding yang lain, nah..inilah
tantangannya!
Tantangan terbesar kedua yang paling sering dihadapi di Indonesia adalah masalah
alat ukur. Lean Six Sigma memerlukan data yang cukup reliable
untuk dapat menghasilkan analisis yang bermutu. Permasalahan
yang terjadi di lapangan adalah, sering sekali peralatan/proses
tidak mempunyai alat ukur yang memadai. Proses terpaksa
dijalankan mengingat tuntutan produksi; sering juga terjadi
karena lemahnya logistic baik karena lambatnya pembelian
alat-alat ukur pengganti yang rusak maupun karena sistem
inventori yang jelek. Sekali lagi, disini perlunya komitmen
dari manajemen paling tinggi untuk melihat dan mencarikan
solusi paling optimal.
Jadi, apakah Lean Six Sigma akan menjadi sekadar trend sesaat atau bisa menjadi
senjata pamungkas, akan sangat tergantung pada komitmen
dari high level management.
Referensi
Breyfogle
III, Forrest W. "Implementing Six Sigma 2nd ed."
New Jersey: Wiley, 2003
George,
Michael L. "Lean Six Sigma." Madison: McGraw-Hill,
2002.