|
Pearl Jam: Band yang Menyabotase Karirnya Sendiri
D. Manggala (6 Mei 2004)

| Pearl Jam (PJ) sempat cukup terkenal di seluruh dunia
pada awal
tahun 90-an, bersama dengan Nirvana, Soundgarden, Mudhoney, dan belakangan
Stone Temple Pilot. Pada masa
itu mainstream musik adalah apa
yang disebut rock alternative,
seattle-sound atau
yang paling kesohor adalah dengan istilah
‘grunge’. Album pertama PJ yang
bertitel Ten terjual
(terakhir dihitung sampai 1999) lebih dari 11 juta
kopi, dan masuk
album-album yang ada dalam
kategori ‘diamond’; kategori album
yang terjual diatas
10 juta kopi. |
 |
Tak lama setelah itu
PJ mulai hilang
dari peredaran karena PJ memutuskan untuk ‘held back a little bit’ dengan
serangkaian tindakan
yang melawan arus. Tak heran
kalau Tommy Mottola,
bos Sony (PJ terikat kontrak dengan Epic Records 1993-2003,
perusahaan rekaman
milik Sony), pernah
mengatakan PJ sebagai “band yang
menyabotase karirnya sendiri.”
Kenapa?
| 1.
Setelah kontroversi
pada videoklip
mereka “Jeremy”, PJ merasa
tidak perlu lagi membuat video klip semata-mata untuk mempromosikan album.
Seluruh anggota band merasa tidak bisa menikmati proses pembuatan klip kalau harus berakting dan pretending. (PJ jarang
sekali mengeluarkan klip, beberapa promosi biasanya diambil dari konser live seperti konser di Chop Suey, Seattle untuk lagu “I am Mine.” Salah satu video klip terbaik milik PJ adalah “Do the Evolution” sebuah
animasi yang digarap
oleh Todd McFarlane kreator
dari komik Spawn). |
 |
2.
PJ tidak
pernah lagi
menghadiri acara anugerah dari dunia musik (seperti Grammy dan semacamnya), mereka pernah menghadiri suatu acara (MTV Awards?) tahun 93 untuk menerima salah satu penghargaan di tahun itu.
Vokalis PJ, Eddie Vedder,
memberikan pidato
singkat setelah penerimaan hadiah dengan mengatakan “ Just so you know, this means nothing to us.” Ungkapan ini semata-mata ditujukan karena banyak aspek pemberian hadiah adalah berdasarkan data penjualan
atau ditujukan untuk mendongkrak penjualan album.
3.
Setelah segala
pemberitaan di
media massa pada
masa awal
90-an terutama menyangkut rivalitas Kurt Cobain (Nirvana) dan
Eddie Vedder yang benar-benar
membuat kedua
penyanyi ini bermusuhan dan hampir bentrok, PJ memutuskan untuk sangat selektif melakukan interview dengan
media massa. Menurut
mereka, media massa,
terutama infotainment, sering
sekali melakukan
twist terhadap hasi
interview.
4.
PJ melakukan
apa yang
dianggap “misi bunuh diri” setelah tahun 94 mengajukan konglomerat hiburan Ticketmaster ke pengadilan karena monopoli. Ticketmaster adalah perusahaan yang menguasai penjualan tiket dan gedung pertunjukan di seluruh Amerika Serikat. Bahkan di beberapa kota besar
seperti New York atau
Los Angeles, hampir seluruh
venue punya aliansi
kuat dengan Ticketmaster yang membuat hampir tidak mungkin manggung di dua kota
itu tanpa
melalui Ticketmaster. Setelah melalui kontroversi panjang dan melelahkan termasuk memberikan testimony
di depan Kongres
AS, kasus ini
dibatalkan oleh Kejaksaan Tinggi (Attorney
General) AS. Walaupun kasus
ini tidak
berlanjut, Ticketmaster belakangan mau mengalah dengan memberikan keterangan pada tiketnya untuk setiap konser dengan memberikan detail berapa charge
sebenarnya dari
sebuah band dan
fee tambahan yang dicharge oleh
Ticketmaster.
| Tentu saja
bagi PJ, melakukan
semua hal itu
bukanlah hal
yang mudah. Penjualan album menurun drastis sejak album keempat (No Code, release
tahun 96) yang hanya
terjual sekitar
1 juta kopi (tentu saja juga akibat
pengaruh bergesernya
tren ke aliran
musik yang lebih
baru). Pergesekan internal juga
ada dengan keputusan untuk mundur dari dunia popularitas:
Jeff Ament (basist) orang yang sangat introvert cenderung setuju dengan held back ini, Mike McCready (lead guitar)
tidak terlalu masalah
asal masih
bisa main gitar; Eddi Vedder (vocal, rhythm guitar)
adalah yang punya
ide, Stone Gossard (rhythm guitar)
adalah anggota
paling cool dan rasional,
cenderung untuk bilang “let’s try and see.” Anggota
PJ yang paling tidak setuju
adalah Dave Abburezzese
(drum) yang selalu heran
dengan pola pikir
teman-temannya: “Apa
salahnya sih jadi
kaya dan
terkenal? Toh itu juga hasil kerja keras
kita?” Dave
akhirnya digantikan oleh Jack Irons (mantan drummer
Red Hot Chilli Peppers) yang
akhirnya membuat
band ini benar-benar menemukan jati dirinya. Jack akhirnya mundur
dari PJ karena
cedera pergelangan tangan, dan digantikan
oleh Matt Cameron (mantan
drummer Soundgarden) yang
juga kawan
lama anggota band ini sejak awal
90-an |
 |
n retrospect, PJ merasa beruntung telah memilih jalan yang menghindari popularitas. Fans yang
dulunya tak
habis mengerti, akhirnya sekarang menyadari betapa tepat keputusan PJ ini. Dengan jalan yang mereka tempuh, PJ bisa menjadi band yang melakukan apa yang mereka
mau dan
yang terbaik buat fans. Dan yang terpenting, sampai
sekarang band ini
masih utuh dan
tempat pertunjukannya
selalu penuh sesak
tiap kali konser.
(bahan: www.theskyiscrape.com dan www.tenclub.net )
|